Laman

Selasa, 28 Agustus 2012

Garuda Didadaku yang ter"duka"

"Bhineka Tunggal Ika" Berbeda-beda tapi tetap satu Bangsa, yaitu Bangsa Indonesia "

     Makna yang sarat akan keindahan Indonesia, Diversity adalah salah satu ciri khas Negara Kita. Dimana dari wilayah saja kita terdiri dari beribu pulau yang menyatukan kita sebagai Wilayah Negara Republik Indonesia. Setiap pulau dihuni beragam etnis, budaya, bahasa, keyakinan, agama, suku, adat istiadat dan sosialita yang lainnya.

    Indonesia kembali diguncang prahara kekerasan, penyerangan atas hak keberbedaan dan keragaman beragama dan berkeyakinan. Hal ini tentu sangat bertentengan dari segi dan sendi kehidupan apapun yang berlaku di negara kita. Didalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2 disebutkan, negara menjamin dan menghormati setiap warga negara dalam memeluk agama dan menjalankan keyakinannya masing-masing.

     Indonesia dibangun dengan darah, kerugian materi, pengorbanan nyawa, yang dilakukan oleh segenap bangsa Indonesia saat itu. Tak ada klaim bahwa suku A. atau suku B atau agama C atau agama D yang berhasil membangun negara ini menjadi Merdeka. Tetapi seluruh warga negara Indonesia saat itu semua berjuang mencita-citakan Bangsa indonesia Merdeka.

     Kini kita dihadapkan pada Tragedi yang mengenaskan, terjadi di saat kita sudah 67 tahun Merdeka. Bangsa kita seolah melupakan semuanya, melupakan keberagaman (Diversity), keanekaragaman, budaya, keyakinan, agama, suku, adat istiadat dsb. Kejadian Penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah, Kaum Syiah, umat Kristiani, penghancuran rumah2 ibadat dsb.

     Apa yang sebenarnya terjadi, apa faktor penting yang menyebabkan bangsa ini mudah menjadi bengis, kejam, sadis,? padahal Indonesia terkenal dengan senyum ramah tamah, dan sangat bersahaja. kemana semua itu. Hilang..?
    
     Kaum radikal yang saya catat memang sudah muncul ketika ada kasus, DI/TII, Kartosoewirjo (NII), Kahar Muzakar di Sulawesi, memang semua itu nyata adanya. namun ideologi dan ajaran yang mereka usung toh dengan sendirinya kalah akan keberagaman dan pemahamn yang baik tentang nilai2 Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

     Muncul kasus Bom Bali I, II, Bom JW Marriot, Bom Buku, Bom Cirebon, Kasus Dr Azhari, dan Noordin M Top, Imam Samudera dkk, merupakan cikal radikalisme yang muncul kembali setelah era Kahar Muzakar dan Kartosoewirjo dkk.

     Sikap Radikalisme ternyata merupakan akar dari sikap Intoleransi bagi kehidupan masyarakat di Indonesia dewasa ini.  Daerah di Indonesia dewasa ini yang merupakan basis kelompok kaum radikalisme adalah di Solo, Jogjakarta, dan Semarang Jawa Tengah.

     Kasus Ahmadiyah di Cikeusik Banten merupakan Tragedi kemanusiaan yang ironisnya hukuman bagi pelaku adalah hanya 6 bulan kurungan. Padahal ada 2 orang  nyawa melayang, kendaraan dibakar, puluhan orang luka-luka. Kini kejadian hampir serupa terjadi di Sampang Madura.

     Penyerangan di Sampang menurut berbagai sumber berasal dari Konflik keluarga, namun akhirnya berkembang dengan adanya masalah keyakinan yaitu ketidaksukaan terhadap keberadaan kaum Syiah di Sampang Madura. Menurut para pemuka Agama disana Kaum Syiah Sampang sudah menodai Ajaran dan Agama Islam yang biasa dilakukan umat Islam di Sampang Madura.

     Sebelumnya Pada akhir bulan desember thn 2011 juga terjadi aksi penyerangan walau dalam skala kecil, kemudian di penjarakannya pimpinan kaum Syiah yaitu Ustadz Tajul Muluk  yang di vonis bersalah di Pengadilan dengan dalil dan pasal penodaan dan penistaan Agama.

     Rentetan masalah ketidaksukaan masyarakat Sampang terhadap keberadaan Kaum Syiah ini menimbulkan skala protes yang memuncak. Terlebih lagi Menteri Agama RI dalam suatu kesempatan menyatakan bahwa Ajaran Syiah adalah sesat. Nah semua itu menimbulkan efek kebencian yang memuncak.
    
     Bangsa ini seakan lupa sejarah keberadaan Syiah dan sejarah Syiah dalam mahzab dan sekte dalam Islam. perlu diketahui Syiah dan Sunni adalah sekte yang diakui Islam sejak dahulu. Diarab Saudi Kaum Syiah juga menunaikan Ibadah Haji dan dipersilahkan oleh otoritas pemerintah di Arab Saudi sana. Syiah adalah kaum terbesar kedua dalam sekte agama Islam setelah Sunni, namun sebenarnya pertentangan mereka tak mesti timbulkan korban jiwa. Di Iran Kaum Syiah diakui keberadaannya. Ahmadinejad Presiden Iran adalah kaum Syiah. Jadi jika kita di Indonesia menilai kaum syiah sesat berarti ada missing link pemahaman yang sangat serius. Nampaknya bangsa ini perlu edukasi ulang.
   
     Kejadian Sampang ini makin memprihatinkan akan keberadaan Pancasila dan UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika, Serta Proklamasi yang merupakan 4 Pilar berbangsa dan bernegara semakin ternoda dan terkoreksi. apa yang sebenarnya kini tengah menghantui bangsa ini.? cacat moral.? cacat pemahaman keberagaman.? entahlah.

     Kini Burung Garuda itu seakan sebuah Patung Burung Hantu yang sudah tak lagi bermakna Patriotok dan Nuansa Nasionalisme. Kini bangsa ini terkoyak keindahan toleransinya. Indonesia sedang masa GALAU....

     Garuda di dakaku yang ter"duka".... Jangan sampai menjadi Bhineka Tinggal Duka
    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar