Laman

Selasa, 08 Januari 2013

RSBI / SBI = Komersialisasi Pendidikan..?

"Terselenggaranya Layanan Prima pendidikan dan Kebudayaan untuk Membentuk Insan Indonesia yang Cerdas dan Berkarakter Kuat" 

Penggalan kalimat diatas adalah Visi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang saya ambil dari website resmi Kemendikbud.

Pemerintah melalui Kemendikbud sedang mempersiapkan dan merancang penerapan system dan basic pengajaran, metode dan kurikulum Pendidikan di Indonesia, usaha ini wajob kita apresiasi dengan baik.

4 Tahun terakhir kita dikejutkan dengan adanya beberapa program pemerintah, diantaranya penerapan dana BOS, semacam dana Block Grant namun berbentuk hibah atau subsidi bagi dunia pendidikan kita. Kemudian ada Uji sertifikasi Guru diseluruh Indonesia dimana PNS Guru harus membekali dirinya dengan bermacam disiplin ilmu guna implementasi system pendidikan berbasis ilmu pengetahuan. Selanjutnya ada Program sekolah terpadu dengan nama RSBI dan SBI.

Program terakhir ini baru saja dibekukan oleh Mahkamah Konstitusi pada hari Selasa tanggal 7 Januari 2013, terhitung sejak dibacakannya putusan MK, bahwa RSBI/SBI dibubarkan karena melanggar UUD 1945.

Konflik tentang RSBI dan SBI ini berawal dari diterapkannya kelas disekolah yang mengkhususkan anak-anak berpotensi dan berprestasi dalam satu ruang kelas dengan metode pengajaran terpisah dari anak lain dengan kurikulum tambahan sesuai dengan yang di "program" kan.

Mengapa ada Konflik..? akan coba saya urai pengalaman saya sebagai orang tua murid yang kebetulan berada pada kelas RSBI/SBI tersebut.
Anak saya kebetulan berprestasi (Juara Kelas) dan berhak secara otomatis dikelompokkan dengan siswa lain yang prestasinya sama dengan anak saya.

Singkat kata anak-anak ini dikumpulkan dalam satu ruangan yang mempunyai fasilitas "istimewa" dari ruangan kelas yang lain yaitu ruangan ber-AC. Dan juga kami dibebankan biaya yang lebih mahal dari kelas non RSBI/SBI. Juga biaya buku paket yang berbeda dari kelas non RSBI.

Dengan perlakuan "istimewa" tersebut kepala Sekolah menjamin bahwa anak-anak yang berada dikelas RSBI/SBI adalah anak-anak istimewa, sehingga biaya nya pun berbeda. Hehehe....
Dengan dalih semua itu kepala Sekolah menjanjikan gengsi akan naik, karena kebanggan orang tua yang menyebabkan anaknya belajar dikelas RSBI.

Apa yang saya dapatkan ternyata tidak sesuai dengan harapan kepala sekolah tadi, hasilnya anak saya saya nilai prestasinya tak beranjak baik, bahkan stagnan, artinya prestasi dia sama saja ketika sebelum masuk RSBI. Mengapa...? karena saya merasakan ada hal yang aneh dalam pengajarannya, terutama aspek bahasa Inggris, yang menjadi pengantar belajar dalam kelas RSBI.

Anak saya ternyata masih pasif dalam berbahasa Inggris, dan cenderung jadi "pemalu" untuk melakukan conversation dengan saya sebagai orang tua. Saya mulai berfikir... apa dikelas gurunya tidak mengajarkan komunikasi aktif dalam berbahasa inggris ya..? Pertanyaan besar itu terus saja terngiang dibenak saya selaku orang tua murid yang bangga anaknya berada di kelaas RSBI.

Dari hasil riset saya selama 2 tahun anak saya belajar dikelas RSBI, ternyata produk kreativitas anak dan kemampuan berbahasa Inggris dengan aktif cenderung tidak berhasil bahkan saya nilai gagal. Mengapa... setiap PR yang dia kerjakan dalam buku paket bahasa Inggris, di selalu gagal di "pronaunce" dan vocabulary. Saya pun bertanya... apa saja yang dikerjakan Guru sehingga anak saya selalu bertanya tentang apa artinya ini...apa artinya itu...apa maksudnya ini...apa maksudnya itu....

Nah dari kejadian kecil itu saja saya sebenarnya sangat kecewa dengan hasil produk RSBI terhadap kemampuan anak saya. Sehingga akhirnya saya bantu dengan Les di luar jam sekolah. Tentu biaya yang saya keluarkan tidak sedikit.

Biaya lain yang sangat mengganggu adalah ada biaya buku paket khusus untuk anak kelas RSBI yaitu Paket Buku RSBI yang setiap Tahun ajaran menelan biaya 1 Juta Rupiah, juga biaya2 lain diluar SPP. Diantaranya biaya Metode, Biaya Komputer, Biaya Praktek dan bermacam biaya lainnya yang tidak ditemukan di kelas Non RSBI.

Nah dari semua biaya yang kami keluarkan, koq hasil yang kami terima adalah anak kami tak lebih baik ketika berada dikelas non RSBI. Jadi potensi apa yang sudah dihasilkan oleh RSBI..?

Dengan adanya putusan MK ini "diskriminasi" dan "komersialisasi" pendidikan oleh sekolah akhirnya sudah hilang... Terima Kasih MK.... Akhirnya beban kami sebagai orang tua terjawab.

Harapan saya... semoga sekolah di Indonesia memang sudah selayaknya bermetodekan pengajaran skala Internasional dan itu dilakukan untuk semua siswa, jangan adalagi perlakuan khusus. Ketidakadilan ini hanya menimbulkan gengsi semata diantara kami para orang tua dan itu bukan sikap Indonesia.

Semoga pembubaran RSBI oleh MK ini langsung direspon cepat oleh pemerintah ke daerah karena kami khawatir dengan dampak kurang baik bagi anak-anak kami disekolah. Kita berharap Depdikbud dapat mengevaluasi menyeluruh agar kami didaerah dapat merasakan manfaat dari pembubaran RSBI ini.

Dukung system pendidikan berbasis Internasional disemua sekolah dan kelas. Lawan bentuk komersialisasi dan dikriminasi pendidikan bagi anak2 kita. Bravo Indonesia... Bravo Dunia Pendidikan Kita

Wassalam...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar