Laman

Minggu, 20 Mei 2012

14 Tahun yang lalu...

     Soeharto ucapkan... " Saya berhenti dari Jabatan sebagai Presiden RI sejak dibacakannya pernyataan ini...".


     Merdeka....Merdeka....Kita merdeka dari Diktator itu, 32 tahun kita dijajah dengan paksa oleh rezim otoriter. Selama itu pula Demokrasi Indonesia cuma dimanipulasi dengan Slogan Demokrasi Pancasila. Saya ingat betapa sewaktu saya sekolah dulu mulai SD, SMP sampai SMA semua dicekoki ideologi "Pancasila yang Manipulatif".
     Ya....dremokrasi negara kita sangat-sangat dikebiri, semua yang berbeda pendapat dengan pemerintah mesti dihabisi. Kita masayarakat biasa seakan tabu utk mempertentangkan semua kebijakan pemerintah pusat. Pemerintah Daerah tak ubahnya sebagai daerah penghasil bagi pusat. Semua hasil bumi, tambang, minyak bumi dsb dikuasai oleh orang-orang pusat.
       Mata pelajaran di sekolah semuanya terkontrol oleh pusat, metode penyeragaman pembelajaran semuanya ditentukan melalui regulasi pusat. Jangan pernah ada yang membantah, apalagi membangkang.
       Para birokrat seakan sebagai boneka dan alat kekuasaan bagi pemerintah pusat. Ketahanan pangan dan Stabilitas keamanan merupakan program utama Orde Baru saat itu. Budaya suap dibalik meja sudah menjadi rahasia umum, sulit dibantah, dan sukar dihentikan. Tak ada yang berani menentang kesewenang-wenangan birokrasi.
      Sejarah kelam selama 32 tahun sangat menyakitkan, pelanggaran HAM, kesewenagan hukum, semuanya diambil tindakan represif oleh negara jika menentang. Dan akan di kenakan pasal makar dan subversif jika dinilai membahayakan pemerintah.
       Kini semuanya berubah, sejak 21 Mei 1998, rakyat Indonesia menuju gerbang pintu kemerdekaannya, sebagai bangsa yang bermartabat dan melaksanakan demokrasi dengan benar, tanpa ada lagi rasa risih, takut, malas, ngeri, dan sebagainya. Kita menuju era baru yang kita namakam orde REFORMASI.
        Kenyataan pahit, setelah 14 tahun yang lalu itu, KKN hingga kini sulit di hentikan. selain sudah menjadi mind set kelam bangsa ini, sudah beranak pinak ideologi korup itu. Banyak diantaranya para aktivis 1998 juga yang terjerat kasus KORUPSI. Menyedihkan...
       Peran Mahasiswa kini tak ubahnya seperti "anjing menggonggong", terlihat galak, tetapi takut akan perlawanan sebaliknya. Masyarakat sipil mulai bentrok dan mempermaslahkan "ISU SARA". Padahal masalah itu sudah selayaknya terhapus dari doktrin dan pikiran kita.
       Orde Reformasi masih banyak catatan dan kritik, nah ini yang perlu kita garis bawahi bersama. Kelakuan para pejabat di daerah yang seenak udelnya meminkan UU dan PP serta keluarkan Perda yang masih tak menghidupi hajat hidup orang banyak. Mereka hanya hidupi keluarga, kolega dan kelompoknya saja. Praktik KKN di daerah meningkat tajam.
        Rakyat makin ditinggalkan pemimpinnya. sementara Pemimpinnya asyik, bermasyuk ria dengan maksiat, dan kejahatan korupsi. Makelar kasus hukum, pajak,birokrasi rumit. Rakyat makin terpinggirkan.
         Dimanakah para aktivis 1998 itu...?

     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar